Frequently Asked Questions

Bagaimana proyek ini mendukung program reduksi sampah Pemerintah Kota Tangerang?


Proyek ini sejalan dengan program lingkungan hidup Pemerintah Kota Tangerang. Kapasitas pengolahan sampah di Proyek dirancang untuk menangani proyek si sampah di Kota Tangerang, dimana proyeksi ini mengestimasi pencapaian 100% program reduksi sampah Kota Tangerang.

Kebijakan Strategis Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah yang diatur di Perpres No. 97/2017 menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dari angka timbulan sampah dicapai pada tahun 2025. Berdasarkan pertumbuhan penduduk dan industri di Kota Tangerang, masih terdapat sampah dengan jumlah yang besar yang harus dikelola oleh Pemerintah Kota Tangerang, terlepas jika target pengurangan sampah itu tercapai atau tidak.




Siapa Oligo dan apa pengalaman Oligo di Proyek semacam ini?


Oligo dibentuk oleh sebuah dana infrastruktur regional dengan keahlian di proyek finance dengan amanat untuk mengembangkan investasi yang berkelanjutan. Keahlian kami didukung oleh rekanan teknis dengan rekam jejak yang panjang di industri-industri relevan, termasuk Waste-to-Energy. Untuk Proyek ini, rekanan yang terpilih memiliki rekam jejak yang baik di Australia, Jerman, dan Asia Tenggara. Selain itu, Oligo bekerja sama dengan ahli-ahli internasional untuk membantu menghasilkan hasil terbaik untuk Proyek ini.

Melalui kolaborasi dengan ahli-ahli internasional, Oligo-Infra mengembangkan tim lokal dengan pengetahuan, pengalaman dan tata Kelola perusahaan yang baik untuk mendorong sektor pengelolaan sampah di Indonesia.




Apa dampak Proyek ini terhadap lingkungan?


Komitmen Oligo terhadap investasi yang berkelanjutan tercermin dalam perancangan Proyek kami. Setiap Proyek dirancang dan dibangun dengan memperhatikan standar-standar nasional dan internasional seraya menerapkan praktik terbaik.

Proyek ini adalah Mechanical Biological Treatment pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan Pembangkit Listrik Thermal, yang meliputi teknologi pengelolaan sampah yang paling menyeluruh di pasaran. Sampah pertama akan dipilah sesuai dengan karakteristik dan jenisnya, dan diolah dengan teknologi yang tepat, sehingga meminimalisir polutan yang timbul akibat pengolahan yang tidak efektif.

Pembangkit listrik thermal adalah komponen penting dalam Proyek ini, dan akan dirancang untuk meminimalisir polutan yang timbul akibat proses pembakaran. Fasilitas ini juga akan dilengkapi peralatan pengontrol polusi udara untuk mencegah keluarnya substrat berbahaya ke lingkungan.

Untuk masyarakat Kota Tangerang, nilai tambah yang diberikan Proyek adalah kemampuannya untuk mereduksi kebutuhan penimbunan sampah di Kota Tangerang. Kurang dari 15% sampah awal yang diolah akan ditimbun, sehingga membantu Kota Tangerang untuk menghemat biaya pengadaan lahan dan juga dampak negative ke lingkungan hidup di masa depan. Tanpa Proyek ini, Kota Tangerang diproyeksikan harus menambah 77 hektar lahan untuk memenuhi kebutuhan penimbunan sampah di 25 tahun ke depan, atau sekitar 50% ukuran TPA Bantargebang saat ini.




Apa langkah yang diambil untuk mencegah manipulasi/kecurangan dalam Proyek?


Jembatan timbang kami akan dilengkapi dengan metode dan teknologi untuk mencegah transaksi-transaksi curang. Pengawasan terhadap jembatan timbang dan proses penimbangan juga akan membantu menurunkan resiko manipulasi.

Pelaporan yang jernih juga akan menjadi prioritas untuk menjamin akuntabilitas Kota Tangerang dan operator Proyek, yang juga dibantu oleh system identifikasi truk dan pengemudi.




Apakah peningkatan jumlah sampah akan terus membebani Kota Tangerang?


Ya. Penting bagi masyarakat Kota Tangerang untuk membantu Pemerintah Kota Tangerang mencapai target reduksi sampah yang telah ditargetkannya. Tanpa memperhatikan hal ini, fasilitas ini akan tergenang sampah dan Tangerang akan membutuhkan fasilitas pengolahan atau penimbunan lainnya.




Apakah proyek ini menguntungkan Kota Tangerang secara keuangan?


Ya. Proyek ini menciptakan penghematan biaya yang besar untuk Kota Tangerang, karena dapat menurunkan 85% kebutuhan penimbunan sampah.Tanpa Proyek ini, Kota Tangerang harus memperluas TPA-nya, dan dalam 25 tahun, TPA ini akan menjadi sebesar lebih dari setengah ukuran TPA Bantargebang. Hal ini akan menyebabkan beban ekonomi yang besar kepada Kota Tangerang yang terdiri dari akuisisi lahan, pembangunan landfill, pengoperasian landfill, penutupan landfill, dan lainnya, dan diproyeksikan akan mencapai sampai dengan Rp 21,7 trilliun.

Jumlah ini jauh lebih besar dari pembayaran Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) dan subsidi listrik yang dibayar ke PLN, berjumlah Rp 14 trilliun dalam periode waktu yang sama, seperti dijelaskan dalam grafik dibawah:




Apakah fasilitas Proyek mendapatkan keuntungan lebih dari penjualan listrik jika lebih banyak sampah yang diolah di fasilitas?


Tidak. Pembangkit listrik thermal berfungsi sebagai pembangkit listrik “Base Load” dan memasok jumlah listrik yang sudah ditentukan dengan tarif penjualan yang tetap. Dalam hal pembangkitan listrik, kenaikan tahunan jumlah sampah tidak akan memberi beban tambahan ke Kota Tangerang/PLN.




Apa basis dari tipping fee/Biaya Layanan Pengolahan Sampah?


Tipping fee atau Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) adalah biaya yang dibayarkan kepada pengembang fasilitas pengolahan sampah atas jasa pengelolaan sampah yang diberikan. Biaya ini mencakup biaya pembangunan fasilitas, biaya operasi dan perawatan fasilitas, termasuk biaya pekerjanya, biaya rehabilitasi landfill eksisting, dan biaya penanganan dampak terhadap lingkungan.

Pada kenyataannya, BLPS yang dibayarkan tidak cukup untuk menutupi semua biaya ini, sehingga sebagian beban pembayaran Proyek dibantu dengan penjualan listrik yang dihasilkan dalam Proyek. PLN merupakan pemangku kepentingan yang penting dalam keberlanjutan Proyek ini, selain tentunya Pemerintah Kota Tangerang.




Langkah apa yang akan diambil untuk memfasilitasi pemulung di Proyek ini?


Dalam implementasinya, Proyek ini tidak akan menghalangi kegiatan pemulung yang sudah ada. Rancangan Proyek mengakomodasi kegiatan pekerja independent ini dalam operasinya, selama prosedur Operasi dan prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja dipenuhi.

Untuk dampak ke masyarakat sekitar, Proyek ini dilengkapi dengan unit daur ulang, pembibitan dan kantin. Unit daur ulang dan pembibitan diciptakan untuk memberikan pekerja-pekerja independent keuntungan dari produk sampingan pengolahan sampah. Kantin komunitas diciptakan untuk melayani pekerja dan pengunjung.




Berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan Proyek? Berapa persen dari tenaga kerja tersebut adalah tenaga kerja lokal?


Proyek ini memiliki fasilitas pemilahan sampah (MRF) yang membutuhkan banyak sumber daya manusia, dan akan membuka 400+ lowongan kerja untuk professional, operator dan pekerja. Individu ini merupakan pekerja terlatih dari berbagai tingkatan yang memenuhi standar akademisi dan pelatihan.

Hal ini diharapkan mendorong kegiatan ekonomi di Kota Tangerang. Proyek ini diharapkan menjadi sentra ekonomi yang baru untuk Kota Tangerang dan menjadi presedan baru untuk pengelolaan sampah di Indonesia.




Apa keuntungan yang didapatkan masyarakat setempat dari Proyek ini?


Lingkungan Hidup yang Lebih Sehat

Proyek ini diharapkan untuk meningkatkan kondisi sanitasi Kecamatan Neglasari dimana proyek berlokasi. Meskipun dekat dengan bandara Soekarno-Hatta, pengelolaan air-lindi yang terbatas dan penimbunan sampah telah menjadi penyumbang utama kondisi kesehatan yang buruk dan produktivitas rendah di Neglasari, yang terakibat dari berbagai penyakit yang menular lewat air dan udara, termasuk jumlah kasus penyakit tipus dan diare yang tinggi.

Proyek ini diharapkan dapat mengkontrol dan melawan dampak lingkungan yang negatif dan menjadi fondasi komunitas yang lebih sehat.

Pusat Ekonomi Baru

Dengan adanya lapangan pekerjaan yang baru, roda ekonomi juga diharapkan akan bergerak, contohnya dengan bertambahnya jumlah permintaan akomodasi dan sandang pangan di daerah ini.




Kapan Proyek ini akan mulai beroperasi?


Setelah penandatanganan kontrak kerjasama dengan Pemerintah Kota Tangerang yang direncanakan pada akhir 2020, pihak pengembang diberikan waktu satu tahun untuk melakukan persiapan pembangunan, seperti mengurus perizinan dan melakukan Detail Engineering Design (DED). Proyek ini diharapkan mencapai ground breaking pada akhir 2021.

Tahap pembangunan akan berlangsung selama 2 (dua) tahun (2022/2023) dan Proyek ini direncanakan untuk dapat beroperasi secara komersil pada tahun 2024.




Bagaimana fasilitas ini beroperasi?


(videos)




Berapa kapasitas pembangkitan listrik di Proyek ini?


Proyek ini memiliki kapasitas bersih pembangkitan sebesar 36 MW. 23 MW akan dibangkitkan melalui pembangkit listrik thermal dan sampai dengan 13 MW akan dihasilkan oleh mesin biogas.




Apakah teknologi/sistem yang digunakan di Proyek ini sudah terbukti? Apakah sudah pernah diimplementasikan di kota lain?


Proyek ini menggabungkan 3 (tiga) teknologi pengolahan sampah utama, yaitu Material Recycling Facility (MRF), Anaerobic Digester dan Pembangkit Listrik Thermal. Setiap teknologi ini merupakan teknologi yang teruji dan telah digunakan di seluruh dunia, termasuk di Asia Tengara.




Bagaimana Proyek ini didanai?


Pendanaan Proyek bersumber dari dana ekuitas swasta milik Oligo dan juga sindikasi bank. Ketika Proyek memasuki tahapan operasi komersil, Kota Tangerang akan membayarkan biaya jasa kepada pengembang melalui sistem pay-per-use.




Bagaimana Proyek ini mendapatkan pendapatan?


Proyek ini mendapatkan pendapatan dari dua sumber:

  1. Sumber utama pendapatan adalah Tipping Fee atau Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) yang dibayar Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan sistem pay-per-use.
  2. Sumber pendapatan kedua adalah penjualan listrik yang dihasilkan mesin Biogas dan Pembangkit Listrik Thermal ke PLN.





Address.

District 8, Treasury Tower, 17th Floor

Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53, SCBD, Lot 28

Jakarta Selatan 12190 - Indonesia

  • LinkedIn Social Icon

+62 21-2793-8905

+62 21-2793-7460

© 2019 by Oligo Infrastruktur Indonesia